Senin, 13 Juli 2009

ayat sholat

MEMBACA AL FATIHAH

Hukum Membaca Al-Fatihah

Membaca Al-Fatihah merupakan salah satu dari sekian banyak rukun sholat, jadi kalau dalam sholat tidak membaca Al-Fatihah maka tidak sah sholatnya berdasarkan perkataan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam (yang artinya):

"Tidak dianggap sholat (tidak sah sholatnya) bagi yang tidak membaca Al-Fatihah"
(Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al-Jama'ah: yakni Al-Imam Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-i dan Ibnu Majah).

"Barangsiapa yang sholat tanpa membaca Al-Fatihah maka sholatnya buntung, sholatnya buntung, sholatnya buntung…tidak sempurna"
(Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al-Imam Muslim dan Abu 'Awwanah).

Kapan Kita Wajib Membaca Surat Al-Fatihah

Jelas bagi kita kalau sedang sholat sendirian (munfarid) maka wajib untuk membaca Al-Fatihah, begitu pun pada sholat jama'ah ketika imam membacanya secara sirr (tidak diperdengarkan) yakni pada sholat Dhuhur, 'Ashr, satu roka'at terakhir sholat Mahgrib dan dua roka'at terakhir sholat 'Isyak, maka para makmum wajib membaca surat Al-Fatihah tersebut secara sendiri-sendiri secara sirr (tidak dikeraskan).

Lantas bagaimana kalau imam membaca secara keras…?

Tentang ini Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa pernah Rasulullah melarang makmum membaca surat dibelakang imam kecuali surat Al-Fatihah:

"Betulkah kalian tadi membaca (surat) dibelakang imam kalian?" Kami menjawab: "Ya, tapi dengan cepat wahai Rasulallah." Berkata Rasul: "Kalian tidak boleh melakukannya lagi kecuali membaca Al-Fatihah, karena tidak ada sholat bagi yang tidak membacanya."
(Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhori, Abu Dawud, dan Ahmad, dihasankan oleh At-Tirmidzi dan Ad-Daraquthni)

Selanjutnya beliau shallallahu 'alaihi wa sallam melarang makmum membaca surat apapun ketika imam membacanya dengan jahr (diperdengarkan) baik itu Al-Fatihah maupun surat lainnya. Hal ini selaras dengan keterangan dari Al-Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal tentang wajibnya makmum diam bila imam membaca dengan jahr/keras. Berdasar arahan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah berkata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :"Dijadikan imam itu hanya untuk diikuti. Oleh karena itu apabila imam takbir, maka bertakbirlah kalian, dan apabila imam membaca, maka hendaklah kalian diam (sambil memperhatikan bacaan imam itu)…"
(Hadits Shahih dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud no. 603 & 604. Ibnu Majah no. 846, An-Nasa-i. Imam Muslim berkata: Hadits ini menurut pandanganku Shahih).

"Barangsiapa sholat mengikuti imam (bermakmum), maka bacaan imam telah menjadi bacaannya juga."
(Hadits dikeluarkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah, Ad-Daraquthni, Ibnu Majah, Thahawi dan Ahmad lihat kitab Irwa-ul Ghalil oleh Syaikh Al-Albani).

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sesudah mendirikan sholat yang beliau keraskan bacaanya dalam sholat itu, beliau bertanya: "Apakah ada seseorang diantara kamu yang membaca bersamaku tadi?" Maka seorang laki-laki menjawab, "Ya ada, wahai Rasulullah." Kemudian beliau berkata, "Sungguh aku katakan: Mengapakah (bacaan)ku ditentang dengan Al-Qur-an (juga)." Berkata Abu Hurairah, kemudian berhentilah orang-orang dari membaca bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada sholat-sholat yang Rasulullah keraskan bacaannya, ketika mereka sudah mendengar (larangan) yang demikian itu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
(Hadits dikeluarkan oleh Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa-i dan Malik. Abu Hatim Ar Razi menshahihkannya, Imam Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan).

Hadits-hadits tersebut merupakan dalil yang tegas dan kuat tentang wajib diamnya makmum apabila mendengar bacaan imam, baik Al-Fatihahnya maupun surat yang lain. Selain itu juga berdasarkan firman Allah Ta'ala (yang artinya):

"Dan apabila dibacakan Al-Qur-an hendaklah kamu dengarkan ia dan diamlah sambil memperhatikan (bacaannya), agar kamu diberi rahmat." (Al-A'raaf : 204).

Ayat ini asalnya berbentuk umum yakni dimana saja kita mendengar bacaan Al-Qur-an, baik di dalam sholat maupun di luar sholat wajib diam mendengarkannya walaupun sebab turunnya berkenaan tentang sholat. Tetapi keumuman ayat ini telah menjadi khusus dan tertentu (wajibnya) hanya untuk sholat, sebagaimana telah diterangkan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Sa'id bin Jubair, Adh Dhohak, Qotadah, Ibarahim An Nakha-i, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan lain-lain. Lihat Tafsir Ibnu Katsir II/280-281.





Cara Membaca Al Fatihah

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membaca surat Al-Fatihah pada setiap roka'at. Membacanya dengan berhenti pada setiap akhir ayat (waqof), tidak menyambung satu ayat dengan ayat berikutnya (washol) berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud, Sahmi dan 'Amr Ad Dani, dishahihkan oleh Hakim, disetujui Adz-Dzahabi.

Jadi bunyinya:

kemudian berhenti,

kemudian berhenti,

Begitulah seterusnya sampai selesai ayat yang terakhir.

Terkadang beliau membaca: ( MAALIKI YAUMIDDIIN )

Atau dengan memendekkan bacaan 'maa' menjadi: ( MALIKI YAUMIDDIIN ), Berdasarkan riwayat yang mutawatir dikeluarkan oleh Tamam Ar Razi, Ibnu Abi Dawud, Abu Nu'aim, dan Al Hakim. Hakim menshahihkannya, dan disetujui oleh Adz-Dzahabi.



Seandainya Seseorang Belum Hafal Al-Fatihah

Bagi seseorang yang belum hafal Al Fatihah terutama bagi yang baru masuk Islam, tentu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan solusinya. Nasehatnya untuk orang yang belum hafal Al-Fatihah (tentunya dia tak berhak jadi Imam):

Ucapkanlah:



SUBHANALLAHI, WALHAMDULILLAHI, WA LAA ILAHA ILLALLAHU, WALLAHU AKBAR, WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAHI

artinya:

"Maha Suci Allah, Segala puji milik Allah, tiada Ilah (yang haq) kecuali Allah, Allah Maha Besar, Tiada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah."
(Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al-Imam Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, Hakim, Thabrani dan Ibnu Hibban disahihkan oleh Hakim dan disetujui oleh Ad-Dzahabi).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda:

"Jika kamu hafal suatu ayat Al-Qur-an maka bacalah ayat tersebut, jika tidak maka bacalah Tahmid, Takbir dan Tahlil."
(Hadits dikeluarkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dihasankan oleh At-Tirmidzi, tetapi sanadnya shahih, baca Shahih Abi Dawud hadits no. 807).

hikmah shalat subuh dan isya

Menyingkap 1001 Hikmah Shalat Subuh
Ξ July 9th, 2006 | → | ∇ Al-Islam |

sholat.jpg“Sesungguhnya amal manusia yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya” Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya; dan kalau jelek, maka jeleklah seluruh amalnya. Bagaimana mungkin seorang mukmin mengharapkan kebaikan di akhirat, sedang pada hari kiamat bukunya kosong dari shalat Subuh tepat waktu?

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya (berjamaah di masjid) sekalipun dengan merangkak” [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Shalat Subuh memang shalat wajib yang paling sedikit jumlah rekaatnya; hanya dua rekaat saja. Namun, ia menjadi standar keimanan seseorang dan ujian terhadap kejujuran, karena waktunya sangat sempit (sampai matahari terbit)

Ada hukuman khusus bagi yang meninggalkan shalat Subuh. Rasulullah saw telah menyebutkan hukuman berat bagi yang tidur dan meninggalkan shalat wajib, rata-rata penyebab utama seorang muslim meninggalkan shalat Subuh adalah tidur.

“Setan melilit leher seorang di antara kalian dengan tiga lilitan ketika ia tidur. Dengan setiap lilitan setan membisikkan, ‘Nikmatilah malam yang panjang ini’. Apabila ia bangun lalu mengingat Allah, maka terlepaslah lilitan itu. Apabila ia berwudhu, lepaslah lilitan yang kedua. Kemudian apabila ia shalat, lepaslah lilitan yang ketiga, sehingga ia menjadi bersemangat. Tetapi kalau tidak, ia akan terbawa lamban dan malas”.

“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan (waktu Isya’ dan Subuh) menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat” [HR. Abu Dawud, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]

Allah akan memberi cahaya yang sangat terang pada hari kiamat nantinya kepada mereka yang menjaga Shalat Subuh berjamaah (bagi kaum lelaki di masjid), cahaya itu ada dimana saja, dan tidak mengambilnya ketika melewati Sirath Al-Mustaqim, dan akan tetap bersama mereka sampai mereka masuk surga, Insya Allah.

“Shalat berjamaah (bagi kaum lelaki) lebih utama dari shalat salah seorang kamu yang sendirian, berbanding dua puluh tujuh kali lipat. Malaikat penjaga malam dan siang berkumpul pada waktu shalat Subuh”. “Kemudian naiklah para Malaikat yang menyertai kamu pada malam harinya, lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka - padahal Dia lebih mengetahui keadaan mereka - ‘Bagaimana hamba-2Ku ketika kalian tinggalkan ?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami jumpai mereka dalam keadaan shalat juga’. ” [HR Al-Bukhari]

Sedangkan bagi wanita - walau shalat di masjid diperbolehkan - shalat di rumah adalah lebih baik dan lebih banyak pahalanya, yaitu yang mengerjakan shalat Subuh pada saat para pria sedang shalat di masjid. Ujian yang membedakan antara wanita munafik dan wanita mukminah adalah shalat pada permulaan waktu.

“Barang siapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Shalat Subuh menjadikan seluruh umat berada dalam jaminan, penjagaan, dan perlindungan Allah sepanjang hari. Barang siapa membunuh orang yang menunaikan shalat Subuh, Allah akan menuntutnya, sehingga Ia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka” [HR Muslim, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]

Banyak permasalahan, yang bila diurut, bersumber dari pelaksanaan shalat Subuh yang disepelekan. Banyak peristiwa petaka yang terjadi pada kaum pendurhaka terjadi di waktu Subuh, yang menandai berakhirnya dominasi jahiliyah dan munculnya cahaya tauhid. “Sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu Subuh; bukankah Subuh itu sudah dekat?” (QS Huud:81)

Rutinitas harian dimulainya tergantung pada pelaksanaan shalat Subuh. Seluruh urusan dunia seiring dengan waktu shalat, bukan waktu shalat yang harus mengikuti urusan dunia.

“Jika kamu menolong (agama) Allah, maka ia pasti akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad : 7)

“Sungguh Allah akan menolong orang yang menolong agamanya, sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa” (QS Al-Hajj:40)

TIPS MENJAGA SHALAT SUBUH :

1. Ikhlaskan niat karena Allah, dan berikanlah hak-hak-Nya
2. Bertekad dan introspeksilah diri Anda setiap hari
3. Bertaubat dari dosa-dosa dan berniatlah untuk tidak mengulangi kembali
4. Perbanyaklah membaca doa agar Allah memberi kesempatan untuk shalat Subuh
5. Carilah kawan yang baik (shalih)
6. Latihlah untuk tidur dengan cara yang diajarkan Rasulullah saw (tidur awal; berwudhu sebelum tidur; miring ke kanan; berdoa)
7. Mengurangi makan sebelum tidur serta jauhilah teh dan kopi pada malam hari
8. Ingat keutamaan dan hikmah Subuh; tulis dan gantunglah di atas dinding
9. Bantulah dengan 3 buah bel pengingat(jam weker; telpon; bel pintu)
10. Ajaklah orang lain untuk shalat Subuh dan mulailah dari keluarga

Jika Anda telah bersiap meninggalkan shalat Subuh, hati-hatilah bila Anda berada dalam golongan orang-orang yang tidak disukai Allah untuk pergi shalat. Anda akan ditimpa kemalasan, turun keimanan, lemah dan terus berdiam diri.

tentang shalat subuh

Wednesday, 7 May 2008
Menyingkap 1001 Hikmah Shalat Subuh

Oleh: DR. Raghib As-Sirjani

" Pernah, salah seorang penguasa Yahudi, menyatakan bahwa mereka tidak takut dengan orang Islam kecuali pada satu hal. Ialah bila jumlah jamaah shalat Subuh menyamai jumlah jamaah shalat Jum'at "

"Sesungguhnya amal manusia yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya" Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya; dan kalau jelek, maka jeleklah seluruh amalnya. à Bagaimana mungkin seorang mukmin mengharapkan kebaikan di akhirat, sedang pada hari kiamat bukunya kosong dari shalat Subuh tepat waktu?

"Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya' dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya (berjamaah di masjid) sekalipun dengan merangkak" [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Shalat Subuh memang shalat wajib yang paling sedikit jumlah rekaatnya; hanya dua rekaat saja. Namun, ia menjadi standar keimanan seseorang dan ujian terhadap kejujuran, karena waktunya sangat sempit (sampai matahari terbit)

Ada hukuman khusus bagi yang meninggalkan shalat Subuh. Rasulullah saw telah menyebutkan hukuman berat bagi yang tidur dan meninggalkan shalat wajib, rata-rata penyebab utama seorang muslim meninggalkan shalat Subuh adalah tidur.

"Setan melilit leher seorang di antara kalian dengan tiga lilitan ketika ia tidur. Dengan setiap lilitan setan membisikkan, 'Nikmatilah malam yang panjang ini'. Apabila ia bangun lalu mengingat Allah, maka terlepaslah lilitan itu. Apabila ia berwudhu, lepaslah lilitan yang kedua. Kemudian apabila ia shalat, lepaslah lilitan yang ketiga, sehingga ia menjadi bersemangat. Tetapi kalau tidak, ia akan terbawa lamban dan malas".

Jawablah dengan jujur :
Ketika Anda harus berangkat keluar kota dengan menggunakan pesawat terbang atau kereta api pada pukul 05:00 pagi, bisakah dengan potensi fisik Anda tiba di bandara atau stasiun tepat pada waktunya? Apakah ada kelonggaran bagi Anda untuk datang terlambat ?

Apabila ada seorang pengusaha yang berjanji akan memberi Anda uang setiap hari pada pukul 05:00 pagi sebesar Rp 1 juta jika Anda datang tepat pada waktunya, apakah Anda akan mendatanginya? Apakah Anda akan beralasan bahwa Anda tidur terlambat, sehingga Anda tidak bisa datang?

Jika Anda benar-benar dapat memenuhi keinginannya, sehingga Anda mendapat Rp 365 juta dalam setahun, lalu keesokan harinya ajal datang menjemput. Bayangkan Anda dibawa dengan keranda menuju liang lahat. Jika Anda berada di posisi ini, jawablah dengan jujur :
"Apakah Anda senang masuk liang lahat dengan membawa Rp 365 juta, dan tidak melaksanakan shalat Subuh walau sekalipun?"
"Ataukah lebih utama bila Anda masuk liang lahat dengan membawa 365 shalat Subuh, dan Anda tidak bawa uang walau hanya seribu rupiah?"
Jawablah dengan sejujur-jujurnya! Manakah yang lebih kekal dan bermanfaat?

"Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan (waktu Isya' dan Subuh) menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat" [HR. Abu Dawud, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]

Allah akan memberi cahaya yang sangat terang pada hari kiamat nantinya kepada mereka yang menjaga Shalat Subuh berjamaah (bagi kaum lelaki di masjid), cahaya itu ada dimana saja, dan tidak mengambilnya ketika melewati Sirath Al-Mustaqim, dan akan tetap bersama mereka sampai mereka masuk surga, Insya Allah.

"Shalat berjamaah (bagi kaum lelaki) lebih utama dari shalat salah seorang kamu yang sendirian, berbanding dua puluh lima lipat. Malaikat penjaga malam dan siang berkumpul pada waktu shalat Subuh". "Kemudian naiklah para Malaikat yang menyertai kamu pada malam harinya, lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka - padahal Dia lebih mengetahui keadaan mereka - 'Bagaimana hamba-2Ku ketika kalian tinggalkan ?' Mereka menjawab, 'Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami jumpai mereka dalam keadaan shalat juga'. " [HR Al-Bukhari]

Sedangkan bagi wanita - walau shalat di masjid diperbolehkan - shalat di rumah adalah lebih baik dan lebih banyak pahalanya. Ujian yang membedakan antara wanita munafik dan wanita mukminah adalah shalat pada permulaan waktu, yaitu yang mengerjakan shalat Subuh pada saat para pria sedang shalat di masjid.

"Barang siapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Shalat Subuh menjadikan seluruh umat berada dalam jaminan, penjagaan, dan perlindungan Allah sepanjang hari. Barang siapa membunuh orang yang menunaikan shalat Subuh, Allah akan menuntutnya, sehingga Ia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka" [HR Muslim, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]

Banyak permasalahan, yang bila diurut, bersumber dari pelaksanaan shalat Subuh yang disepelekan. Banyak peristiwa petaka yang terjadi pada kaum pendurhaka terjadi di waktu Subuh, yang menandai berakhirnya dominasi jahiliyah dan munculnya cahaya tauhid. "Sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu Subuh; bukankah Subuh itu sudah dekat?" (QS Huud:81)

Rutinitas harian dimulainya tergantung pada pelaksanaan shalat Subuh. Seluruh urusan dunia seiring dengan waktu shalat, bukan waktu shalat yang harus mengikuti urusan dunia.

"Jika kamu menolong (agama) Allah, maka ia pasti akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu" (QS Muhammad : 7)

"Sungguh Allah akan menolong orang yang menolong agamanya, sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa" (QS Al-Hajj:40)

TIPS MENJAGA SHALAT SUBUH :
1. Ikhlaskan niat karena Allah, dan berikanlah hak-hak-Nya
2. Bertekad dan introspeksilah diri Anda setiap hari
3. Bertaubat dari dosa-dosa dan berniatlah untuk tidak mengulangi kembali
4. Perbanyaklah membaca doa agar Allah memberi kesempatan untuk shalat Subuh
5. Carilah kawan yang baik (shalih)
6. Latihlah untuk tidur dengan cara yang diajarkan Rasulullah saw (tidur awal; berwudhu sebelum tidur; miring ke kanan; berdoa)
7. Mengurangi makan sebelum tidur serta jauhilah teh dan kopi pada malam hari
8. Ingat keutamaan dan hikmah Subuh; tulis dan gantunglah di atas dinding
9. Bantulah dengan 3 buah bel pengingat(jam weker; telpon; bel pintu)
10. Ajaklah orang lain untuk shalat Subuh dan mulailah dari keluarga

Jika Anda telah bersiap meninggalkan shalat Subuh, hati-hatilah bila Anda berada dalam golongan orang-orang yang tidak disukai Allah untuk pergi shalat. Anda akan ditimpa kemalasan, turun keimanan, lemah dan terus berdiam diri.

mnyingkap rahasia shalat subuh

think simply

Ditulis oleh guswib di/pada 12 Juli 2009

sering kita merasakan sesuatu kekhawatiran akan sesuatu hal, dan biasanya nih nggak jauh-jauh amat dengan urusan duniawi. setelah anak lulus sekolah… bingung dan khawatir kemana anak kita akan dikolahkan, sudah tanggal toea…. persediaan kas keluarga menipis….khawatir lageee. sebenarnya yang membuat khawatir dan bingung itu apa seh??? kita gak sadar, bahwa selama ini kita dipermainkan oleh pikiran kita sendiri…bayangan kita sendiri. padahal belum tentu juga apa yang dikhawatirkan tersebut akan benar-benar terjadi…nah lho, akhirnya stress sendiri. coba kalo kita perhatikan sodara2 kita yang tinggal di desa2.. kebanyakan hidup mereka tenang..damai, padahal mereka juga punya permsalahan seperti kita, hanya beda kadarnya saja. apa resepnya??? rupanya mereka punya prinsip hidup yang wooooowww…semeleh dalam menghadapi hidup mereka. mereka gak dipusingkan dengan pikiran pikiran liarnya, ‘pejah gesang nderek gusti’ (hidup mati diserahkan Allah), sederhana kan cara berpikir mereka??? gitu aja kok repot….

Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »
Puncak kenikmatan

Ditulis oleh guswib di/pada 10 Juni 2009

Banyak dari kita beranggapan kalo puncak kenikmatan adalah ketika kita memiliki sesuatu yg paling diinginkan, rumah mewah ato mobil misalnya. Coba perhatikan misalnya keinginan tsb terwujud, berapa lama rasa nikmat muncul, sehari, sbulan ato stahun? Tdk langgeng rupanya, ada expired date-nya trnyata. Terus apa lagi yg akan kita kejar, apa cukup hanya kenikmatan duniawi belaka? Kenapa gak mncari kenikmatan ruhani sbg kenikmatan yg hakiki. Hayya alaa falaa..

Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »
SMS dari Ustadz Abu Sangkan

Ditulis oleh guswib di/pada 8 Juni 2009

Ketika tdk ada keterikatan dan sadar Allah tmpat kmbali, trnyata musibah hnyalah utk mngintai keadaan rmh kita yg sbenarnya. Dan btapa indahnya kjadian itu krn dsaat itu kt dtnjukkan keadaan iman kita. Kita sdang dlm posisi itu atau tdk. Maa ashaba min musibatin illa bi iznillah waman yu’min billah yahdi qalbahu.

Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar »
jawaban ustadz abu sangkan terhadap abu umamah

Ditulis oleh guswib di/pada 3 Juni 2009

Dibawah ini petikan jawaban Ustadz Abu Sangkan terhadap Abu Umamah yang masuk ke email saya. Selengkapnya adalah :

Abu Sangkan mengenai Abu Umamah
Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Asyhadu an laa ilaha illa Allah wa asy hadu anna Muhammadarrasulullah
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad
Dewasa ini saya sering tidak menangapi ulasan-ulasan saudara sesama muslim mengenai mengenai ajaran shalat khusyu’ dan karya-karya saya berupa buku-buku yang saya tulis. Terkadang terasa tidak adil dan tidak bijak, karena didalam mengulas karya-karya buku saya dibutuhkan pemikir an yang baik.
Namun saya berbesar hati didalam menanggapi hal ini, asalkan tidak menjadi sebuah permusuhan yang mengarah kepada perpecahan. Persoalan ini karena perbedaan persepsi dan pemahaman saja. Saya dapat memakluminya, karena ini terjadi akibat latar belakang ilmu dan pengalaman, serta kedewasan sebagai orang Islam. Saya sangat senang dan terbuka dengan adanya bantahan dan tanggapan, terlebih kalau dilakukan dalam forum diskusi yang diselengarakan didepan publik. Melalui cara itu, mereka akan mendapatkan informasi yang lebih lengkap dan jelas dari sebuah pemaparan, karena bahasa tulisan terkadang kurang mewakili dari maksud yang dikandung.
Namun demikian saya tetap akan memberikan tanggapan ringan saja, buat pembaca buku-buku saya, terutama kepada saudara Abu Umamah yang dengan semangat mengecam dan menganggap sesat karya-karya saya. Saya hanya mengharap kepada Abu Umamah, tetap teguh berjuang menegakkan keadilan. Saya salut terhadap beliau, karena semangatnya dalam memurnikan ajaran Islam dengan gigih, meskipun terkadang kurang pandai mengemas dengan akhlak yang baik.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Uncategorized | 3 Komentar »
Tabligh Akbar Sukses

Ditulis oleh guswib di/pada 22 Mei 2009

Alhamdulillah puji syukur kpd Allah swt, tabligh akbar ‘indahnya shalat’ bersama ustd abu sangkan berlangsung sukses dan diikuti lebih dari 1300 jamaah, bahkan panitia dengan sangat berat hati, terpaksa tdk dpt menerima bbrp jamaah yg terus hadir mengingat kapasitas tempat yg sudah overload. Antusiasme jamaah dalam tabligh akbar tsb sangat luar biasa, dimulai dari jam 08.00 wib s.d 16.00 wib, jamaah tdk beranjak dari tempat duduknya. Insya Allah acara serupa akan dilaksanakan lagi pada tgl 25 okt 2009.

Ditulis dalam Uncategorized | 3 Komentar »
Makrifat for beginner

Ditulis oleh guswib di/pada 3 Mei 2009

Pada sbuah bincang2 dg salah seorg guru ngaji saya, bliau menanyakan materi apa yg kira2 menarik dlm pengajian. ‘Diisi dg materi makrifat for beginner aja pak,’kata saya. ‘maksudnya?,tnya bliau kmd. ‘ ya paling gak dberikan pemahaman kalo ALLAH tuh dekat dan mliputi sgala sesuatu. Krn pemahaman umum yg ada, diktkan kl Allah tuh jauh dan slalu duduk di singgasana-Nya. Semua urusan diserahkan pd wakil2-Nya.

Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar »
Silaturrahim power

Ditulis oleh guswib di/pada 2 Mei 2009

Pernah dengar sebuah lirik tembang tamba ati yg berbunyi ‘wong kang saleh kumpulana’? Ternyata benar, ketika hati kita sedang gundah, cobalah untuk bersilaturrahim dg org yg saleh. Menurut pngalaman pribadi saya, ada perasaan yg ‘nyess’ di dalam hati. Tapi yg sering tjd, selama ini bila stres/ depresi, banyak yg lari ke miras, dugem dlsb. Apa iya dg hal tsb hati mjd tenang? So..Silaturrahim aja yuk,murah dan nyata hasilnya.

tentang shalat

Shalat merupakan rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh umat Islam. Shalat itu sendiri sesungguhnya mengandung nilai yang luar biasa yang nyaris sebagian kita sudah sangat mafhum posisi sentral shalat tersebut. Shalat adalah tiang agama, shalat adalah cek list pertama yang akan dipertanyakan ketika hisab nanti. Namun demikian, nasib kurang baik justru terjadi pada shalat ini. Shalat telah menjadi collective unconsciousness Moslem, yakni sesuatu yang divisualisasikan tidak enak dalam mengerjakannya, atau jika tidak mengerjakkan akan masuk neraka. Pemahaman ini tentu benar, namun kurang komprehensif dalam memotret shalat itu sendiri.

Seandainya tidak ada neraka dan shalat tidak diwajibkan barangkali sebagian orang tidak akan pernah shalat wajib tersebut. Padahal dikatakan, asshalatu khairu mina naum, shalat adalah lebih baik dari pada tidur yang enak itu. Mengapa shalat menjadi tidak menarik, tidak enak dan berat? Dalam otak kita ada istilahnya Neuro Linguistic Program yang telah mempersepsi shalat menjadi sesuatu yang tidak enak dan juga salah kaprah dalam memahami shalat.

Pertama, dalam kehidupan sebagian umat Islam, pengajaran shalat kepada putra-putrinya telah dilakukan dengan pendekatan yang tidak mengenakkan, misalnya mau mengerjakan shalat karena takut disiram air sama orang tua, atau takut dibentak oleh orang tua, dan tentu ala kulli hal takut neraka. Pesan repetitive ini diterima oleh otak kita yang dalam jangka panjang telah menjadi memori bawah sadar sehingga ketika mendengar kata shalat yuk.. bayangan langsung meluncur ; disiram, dibentak, dan tentu ancaman siksa api neraka. Tidaklah mengherankan kalau shalat dalam fase seperti ini adalah sekedar menggugurkan kewajiban saja. Shalat model seperti ini disindir dalam sebuah hadith “ Kam min qaaimun kahdhuhu min shaltihi atta’ab wan annashob”. Banyak orang yang melaksanakan shalat hanya mendapatkan lelah dan kepayahan. Dalam hadith yang lain “ Ya’ti ala an nash yushalluuna wala yushollun”. Akan datang pada manusia suatu saat nanti mereka shalat, tetapi seperti tidak shalat. Mendapa ini terjadi? Karena shalatnya hanya sekedar absent atau biar tidak masuk neraka tadi. Meskipun demikian karena Allah Rahman dan Rakhim, kita mesti optimis terhadap syurgaNYA allah. Karena masuk syurga tidak semata-mata aspek shalat, tapi kasih sayang Allah swt.

Kedua, salah kaprah dalam memahami shalat. Sebagian umat Islam “terjebak” dalam memperdebatkan furu’iyyah kaifiyah shalat, tata cara shalat dalam aspek fiqhnya yang tentu saja sangat menyediakan ladang perbedaan yang cukup banyak. Tinjau saja dalam fiqh madzhahibul arba’ah, maka Anda akan disuguhkan praktek shalat yang beragam. Multitafsir terhadap kaifiyyah atau tata cara shalat itu sendiri hendakya tidaklah menjadi problem meruncing sehingga berpotensi merasa paling benar (truth claim) dan menyalahkan tata cara orang lain bershalat. Keragaman ini harus diletakkan dalam kerangka Fiqh yang memang memberikan perbedaan dalam bershalat. Sebagaimana disebut dalam hadith, Rasuluallah bersabda Shollu kama raitumuniy, usholli, shalatlah kamu sebagaimana kamu liat saya sedang shalat. Barangkali masing-masing sahabat memiliki kisah yang berbeda dalam meliat Rasul shalat, misalnya Rasul shalat pernah sedang menggendong anak, dan lain sebagainnya. Kalau pakai fiqh syafii, tentu shalat yang banyak gerakan macam ini bisa gugur shalatnya. Hanya kearifan dalam mensikapi tata cara shalatlah menjadikan kita bisa menempatkan diri. Biarlah ada yang shalat tidak pakai bismillah dalam baca surat al-fatehah yang mungkin dibuat jahr atau sirr, atau cara meletakkan tangan sehabis takbiratul ikhram yang bisa beragam. Ada yang di dada, sebelah perut, bahkan karena mungkin sudah mahir lepas tangan pun ada. Sekali lagi biarkanlah kaifiyyah atau tatacara shalat ini ada dan berjalan secara natural.

Mari kita bicarakan dimensi shalat khusyu’ nya saja. Menuju pribadi yang bisa melaksanakan shalat khusyu’ tidak sekedar persoalan keilumuan, yang sudah professor atau sudah ngaji dan paham tentang bab shalat khusyu pun tidaklah menjamin. Karena shalat khusyuk adalah persoalan nyambung dan tidaknya kepada Allah swt. Menemukan shalat khusyu’ ibarat orang memancing ikan. Yang dicari orang hobi mancing ikan, tidak semata-mata mendapatkan ikan, namun kejadian saat kailnya ditarik oleh ikan, det..det..det itulah nikmat yang luar biasa. Inilah mengapa orang bisa berjam-jam hanya ingin mendapatkan ikan, padahal dikantongnya ada uang yang bisa beli ikan sejenis dalam waktu sekejap dalam jumlah yang tentu lebih banyak.

Imam al-Ghazali yang terkenal dengan kitab ikhya’ ulumu addin-nya memasukan khusyu’, dalam syarat sahnya shalat. Betapa bahayanya orang yang tidak bisa mencapai derajat kehusyukan ini, sehingga Imam al-Ghazali menyatakannya sebagai batal. Sangat mungkin yang perlu dipahami dari sini adalah, kalau tidak bisa shalat khusyu’ maka dimensi tanha anil fakhsya’ wal munkar-nya tidak bisa tercapai. Kalau tidak tercapai, berarti banyak kemaksiyatan, kalau banyak kemaksiyatan berarti bahaya dan membahayakan orang lain. Guna mencegah bahaya makro inilah, mungkin Imam al-Gahzali sangat ketat dalam klasifikasi standard shalatnya. Kalau pakai framework Imam al-ghazali, se-Indonesia, bahkan mungkin sedunia bisa dipastikan kita akan kesulitan mencari siapa saja yang telah berhasil shalat khusyuknya.

Dalam surat al baqarah ayat 2 disebutkan “ wastainu bi shabri was shalah, wa innaha lakabiratun ila alal khosyiin. Aladzina yadzunnuna annahum mulaquu rabbihim, wailaihim rajiiun”. Ayat ini tidak boleh dipahami sepotong-potong, sebagaimana kebiasaan sebagian Islam yang suka memahami ayat secara parsial dan apalagi tidak paham ilmu alatnya. Aladziina adalah isim maushul yang berfungsi menjelaskan khasyiuuun, ada kata yadzunun yang berarti fiil mudhari’ yakni akan atau sedang. Ini berarti proses liqo’ kepada Allah sedang dilakukan dan sadar bahwa dirinya (aku, nafs atau ruh) akan kembali padaNYA.

Kalam akhir

Shalat khusyuk harus mampu mencapai derajat memanggil AKU yang berarti nafs, jiwa atau ruh yang akan kembali kepada Allah swt, bukanlah gerakan jasmaniyyah badan kita semata (meskipun dalam penjelasan terpisah, efek shalat yang benar mampu mengirimkan oksigen dan darah yang lancar ke otak sehingga mengurangi resiko berbagai penyakit).

Kacaunya shalat kita selama ini hanya pendekatan memenuhi standard fiqh, jasmaniyyah dan pendekatan otak yang dalam batas-batas tertentu memiliki kekurangan. Kelemahan otak adalah dia tidak suka sesuatu yang diulang-ulang (repetitive). Jika merespon sesuatu yang sama, maka dia akan cepat bosan (get bored). Inilah mengapa dengan pendekatan otak, shalat kita sudah dihafal dalam otak kita, disimpan dalam sebuah file, ketika dipanggil, maka dengan lancar akan dibaca ayat ini, ayat itu dan seterusnya sampai hapal di luar kepala. Karena di luar kepala, akhirnya shalatnya gagal mengingat Allah swt. Apa yang terjadi dengan shalat seperti ini, maka saat shalat yang masuk muncul justeru keruwetan di kantor, persoalan dengan teman, bahkan barang yang hilang bisa ketemu ketika shalat. Gus Mus (KH. Musthofa Bisri) mengibaratkan RAM (Random Acces Memory) dalam sebuah computer dengan shalat. RAM dalam otak kita itu kadang penuh dengan urusan dunia, apa yang terjadi jika shalat mengandalkan pendekatan otak? Karena otak sudah penuh dengan urusan dunia, maka sering urusan dunia juga masuk dalam shalatnya (Gama Media, Ghufron Ajib, 2000)

Untuk itu, perlu sekirannya menanamkan perilaku shalat karena Allah diulang-ulang secara terus-menerus untuk mengganti long term memory kita atau RAM kita yang sudah penuh dengan urusan duniawi dan juga persepsi shalat yang tidak mengenakkan. Cara ini bisa ditempuh dengan memanggil ruh kita ketika mau shalat. Jiwa yang akan kembali kepadaNYA. Inilah yang perlu kita tarik dalam-dalam ketika takbir, rasakan dia yang ikut shalat, bukanlah badan kita. Wafii anfusikum afala tubsyirrun.

Jika shalat kita masih dalam pendekatan otak semata, maka kenikmatan akan berkurang sesuai dengan naluri dan kelemahan otak yang tidak suka sesuatu yang diulang-ulang atau stabil, yakni itu-itu saja yang dibaca surat al-fatekhah, habis ini ruku’ pasti sujud dan seterusnya. Dengan cara memanggil Allah dalam setiap shalat dan dengan cara melibatkan ruh yang akan kembali kepadaNYA, maka justru akan ditambahi terus kenikmatan shalat kita. Shalat seperti inilah yang dirindukan orang, bertahan lama karena enak, tidak jenuh, asyik dan menggapai bahagia sebagaimana panggilan adzan, gapailah kebahagiaan, hayya alal falah. Bahkan rileks, sebagaimana ketika Rasul mengingatkan Sahabat Bilal, Arikhna bis As shalat, tenang atau refreshingkanlah dirimu dengan shalat.

Adalah bukan suatu kebetulan bahwa konsep Tuhan kita atau Allah swt tidak memakai media, seperti patung, atau gambar Yesus Isa dalam agama yang lain. Dengan cara seperti ini memungkinkan jiwa kita untuk tidak terikat, berhenti dan terpenjara. Jiwa ini jadi merdeka, un limited spaces and times. Jadi, shalat itu ya enak, melebihi apa saja, plus ditambahi terus kenikmatan tersebut sesuai dengan janji Allah swt. Huwal ladzi anzalas sakiinata fi qulubil mukminin, liyadadu iimana ma’a iimanihim. Semoga demikian adanya. Allahumma amiin.

Pesan Ust Abu Sangkan Tadzkiroh plus BBQ di City difasilitasi oleh teman-teman Tarbiyah dan PKS:

1. Memahami ajaran Islam mesti komprensif yakni memiliki kemampuan ilmu alat bantu yang memadai, mulai dari ilmu bahasa ilmu nahwu sharaf, amrithi, jurmiyah, tasrifan, ilmu balaghah sampai ilmu al-Qur’an menyangkut tajwid, tafsir, ilmu nasikh wal mansukh, untuk menyebut beberapa ilmu yang terkait saja. Plus ilmu kaidah2 ushul fiqh dengan tidak mengesampingkan aspek ilmu-ilmu umum lainnya. Kalau belum memadai carilah guru ngaji yang tepat, janganlah “guru TK” (istilah Pak Abu) yakni ngaji al-Qur’an dan tahu terjemahannya saja. Bukan berarti tidak boleh, hanya saja harus sadar keterbatasannya, bahwa ilmunya tidak applicable untuk memecahkan masalah Islam yang lebih makro lagi.
2. Pendirian Shalat Center di Adelaide, yang bisa merangkum seluruh alumni dari berbagai golongan dan tidak perlu ada ketua, karena akan berpotensi untuk saling rebutan, pesan beliau. Mungkin coordinator yang bisa disepakati bersama. Saya pribadi sudah bilang ke Pak Ukar Karyanto, beliau mau menjadi coordinator yang nantinya bisa digiir, gantian sebagai pusat informasi bersama.
3. Semakin ikut mengaji dalam pengajian, seharusnya menjadikan keislaman kita yang meneduhkan, netral dan tumbuh sifat-sifat kearifan. Karena beliau khawatir menjamurnya pengajian yang tidak dibarengi dengan pemahaman yang komprehensif dan sifat yang arif dalam mensikapi perbedaan (khilafiyyah) bisa kontraproduktif hasilnya, beberapa contoh pembahasan yang diangkat adalah fatwa MUI pengharaman rokok dan poligami dalam Islam. Kata Ust. Abu Sangkan prinsip Islam adalah monogamy, kalau ditelisik lewat asbabu nuzul ayat serta setting histories masyarakat Arab saat itu. Untuk rokok, tanya saja ke mbak erna selaku penanya, apa hasilnya. Saya saja ndak berani bertanya, karena pak Ustadnya merokok he..he.. tapi beliau baik dan gentle, menyatakan bahwa rokok tidak baik dan jangan diikuti, namun jangan bawa aspek agama (sebagaimana putusan MUI), karena pelarangan rokok tidak ada tersirat secara langsung dalam al-Qur’an, apalagi cangkokan ayat yang dipakai asbabun nuzulnya adalah pengingatan tentang kekuatan diri. Karena waktu itu, tentara Islam berjumlah sedikit mau melawan ribuan musuh. Jadi pesan janganlah rusak diri kamu konteksnya sangatlah berbeda. Namun demikian saya pribadi berpendapat, regulasi terhadap perokok diperlukan, menyangkut asap rokok bisa merugikan pihak ketiga (passive smoker). Senada dengan ini Ust. Abu Sangkan, menyarankan seperti disini aja. No Smoking! Ndak usah, pakai hukum haram yang juga problematic di internal MUI nya.
4. Perbanyak silaturahmi antar komponen Islam.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Al-Faqir ila rahmati rabbihi

M. Adib Abdushomad, M.Ag

Salah satu wakil ketua Tanfidz NU Australia-New Zealand

Mengabdi di Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Depag RI Jakarta

(Berkelompokklah asal menciptakan kemaslahatan umat dan bersifat inklusif)

tentang shalat

Shalat merupakan rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh umat Islam. Shalat itu sendiri sesungguhnya mengandung nilai yang luar biasa yang nyaris sebagian kita sudah sangat mafhum posisi sentral shalat tersebut. Shalat adalah tiang agama, shalat adalah cek list pertama yang akan dipertanyakan ketika hisab nanti. Namun demikian, nasib kurang baik justru terjadi pada shalat ini. Shalat telah menjadi collective unconsciousness Moslem, yakni sesuatu yang divisualisasikan tidak enak dalam mengerjakannya, atau jika tidak mengerjakkan akan masuk neraka. Pemahaman ini tentu benar, namun kurang komprehensif dalam memotret shalat itu sendiri.

Seandainya tidak ada neraka dan shalat tidak diwajibkan barangkali sebagian orang tidak akan pernah shalat wajib tersebut. Padahal dikatakan, asshalatu khairu mina naum, shalat adalah lebih baik dari pada tidur yang enak itu. Mengapa shalat menjadi tidak menarik, tidak enak dan berat? Dalam otak kita ada istilahnya Neuro Linguistic Program yang telah mempersepsi shalat menjadi sesuatu yang tidak enak dan juga salah kaprah dalam memahami shalat.

Pertama, dalam kehidupan sebagian umat Islam, pengajaran shalat kepada putra-putrinya telah dilakukan dengan pendekatan yang tidak mengenakkan, misalnya mau mengerjakan shalat karena takut disiram air sama orang tua, atau takut dibentak oleh orang tua, dan tentu ala kulli hal takut neraka. Pesan repetitive ini diterima oleh otak kita yang dalam jangka panjang telah menjadi memori bawah sadar sehingga ketika mendengar kata shalat yuk.. bayangan langsung meluncur ; disiram, dibentak, dan tentu ancaman siksa api neraka. Tidaklah mengherankan kalau shalat dalam fase seperti ini adalah sekedar menggugurkan kewajiban saja. Shalat model seperti ini disindir dalam sebuah hadith “ Kam min qaaimun kahdhuhu min shaltihi atta’ab wan annashob”. Banyak orang yang melaksanakan shalat hanya mendapatkan lelah dan kepayahan. Dalam hadith yang lain “ Ya’ti ala an nash yushalluuna wala yushollun”. Akan datang pada manusia suatu saat nanti mereka shalat, tetapi seperti tidak shalat. Mendapa ini terjadi? Karena shalatnya hanya sekedar absent atau biar tidak masuk neraka tadi. Meskipun demikian karena Allah Rahman dan Rakhim, kita mesti optimis terhadap syurgaNYA allah. Karena masuk syurga tidak semata-mata aspek shalat, tapi kasih sayang Allah swt.

Kedua, salah kaprah dalam memahami shalat. Sebagian umat Islam “terjebak” dalam memperdebatkan furu’iyyah kaifiyah shalat, tata cara shalat dalam aspek fiqhnya yang tentu saja sangat menyediakan ladang perbedaan yang cukup banyak. Tinjau saja dalam fiqh madzhahibul arba’ah, maka Anda akan disuguhkan praktek shalat yang beragam. Multitafsir terhadap kaifiyyah atau tata cara shalat itu sendiri hendakya tidaklah menjadi problem meruncing sehingga berpotensi merasa paling benar (truth claim) dan menyalahkan tata cara orang lain bershalat. Keragaman ini harus diletakkan dalam kerangka Fiqh yang memang memberikan perbedaan dalam bershalat. Sebagaimana disebut dalam hadith, Rasuluallah bersabda Shollu kama raitumuniy, usholli, shalatlah kamu sebagaimana kamu liat saya sedang shalat. Barangkali masing-masing sahabat memiliki kisah yang berbeda dalam meliat Rasul shalat, misalnya Rasul shalat pernah sedang menggendong anak, dan lain sebagainnya. Kalau pakai fiqh syafii, tentu shalat yang banyak gerakan macam ini bisa gugur shalatnya. Hanya kearifan dalam mensikapi tata cara shalatlah menjadikan kita bisa menempatkan diri. Biarlah ada yang shalat tidak pakai bismillah dalam baca surat al-fatehah yang mungkin dibuat jahr atau sirr, atau cara meletakkan tangan sehabis takbiratul ikhram yang bisa beragam. Ada yang di dada, sebelah perut, bahkan karena mungkin sudah mahir lepas tangan pun ada. Sekali lagi biarkanlah kaifiyyah atau tatacara shalat ini ada dan berjalan secara natural.

Mari kita bicarakan dimensi shalat khusyu’ nya saja. Menuju pribadi yang bisa melaksanakan shalat khusyu’ tidak sekedar persoalan keilumuan, yang sudah professor atau sudah ngaji dan paham tentang bab shalat khusyu pun tidaklah menjamin. Karena shalat khusyuk adalah persoalan nyambung dan tidaknya kepada Allah swt. Menemukan shalat khusyu’ ibarat orang memancing ikan. Yang dicari orang hobi mancing ikan, tidak semata-mata mendapatkan ikan, namun kejadian saat kailnya ditarik oleh ikan, det..det..det itulah nikmat yang luar biasa. Inilah mengapa orang bisa berjam-jam hanya ingin mendapatkan ikan, padahal dikantongnya ada uang yang bisa beli ikan sejenis dalam waktu sekejap dalam jumlah yang tentu lebih banyak.

Imam al-Ghazali yang terkenal dengan kitab ikhya’ ulumu addin-nya memasukan khusyu’, dalam syarat sahnya shalat. Betapa bahayanya orang yang tidak bisa mencapai derajat kehusyukan ini, sehingga Imam al-Ghazali menyatakannya sebagai batal. Sangat mungkin yang perlu dipahami dari sini adalah, kalau tidak bisa shalat khusyu’ maka dimensi tanha anil fakhsya’ wal munkar-nya tidak bisa tercapai. Kalau tidak tercapai, berarti banyak kemaksiyatan, kalau banyak kemaksiyatan berarti bahaya dan membahayakan orang lain. Guna mencegah bahaya makro inilah, mungkin Imam al-Gahzali sangat ketat dalam klasifikasi standard shalatnya. Kalau pakai framework Imam al-ghazali, se-Indonesia, bahkan mungkin sedunia bisa dipastikan kita akan kesulitan mencari siapa saja yang telah berhasil shalat khusyuknya.

Dalam surat al baqarah ayat 2 disebutkan “ wastainu bi shabri was shalah, wa innaha lakabiratun ila alal khosyiin. Aladzina yadzunnuna annahum mulaquu rabbihim, wailaihim rajiiun”. Ayat ini tidak boleh dipahami sepotong-potong, sebagaimana kebiasaan sebagian Islam yang suka memahami ayat secara parsial dan apalagi tidak paham ilmu alatnya. Aladziina adalah isim maushul yang berfungsi menjelaskan khasyiuuun, ada kata yadzunun yang berarti fiil mudhari’ yakni akan atau sedang. Ini berarti proses liqo’ kepada Allah sedang dilakukan dan sadar bahwa dirinya (aku, nafs atau ruh) akan kembali padaNYA.

Kalam akhir

Shalat khusyuk harus mampu mencapai derajat memanggil AKU yang berarti nafs, jiwa atau ruh yang akan kembali kepada Allah swt, bukanlah gerakan jasmaniyyah badan kita semata (meskipun dalam penjelasan terpisah, efek shalat yang benar mampu mengirimkan oksigen dan darah yang lancar ke otak sehingga mengurangi resiko berbagai penyakit).

Kacaunya shalat kita selama ini hanya pendekatan memenuhi standard fiqh, jasmaniyyah dan pendekatan otak yang dalam batas-batas tertentu memiliki kekurangan. Kelemahan otak adalah dia tidak suka sesuatu yang diulang-ulang (repetitive). Jika merespon sesuatu yang sama, maka dia akan cepat bosan (get bored). Inilah mengapa dengan pendekatan otak, shalat kita sudah dihafal dalam otak kita, disimpan dalam sebuah file, ketika dipanggil, maka dengan lancar akan dibaca ayat ini, ayat itu dan seterusnya sampai hapal di luar kepala. Karena di luar kepala, akhirnya shalatnya gagal mengingat Allah swt. Apa yang terjadi dengan shalat seperti ini, maka saat shalat yang masuk muncul justeru keruwetan di kantor, persoalan dengan teman, bahkan barang yang hilang bisa ketemu ketika shalat. Gus Mus (KH. Musthofa Bisri) mengibaratkan RAM (Random Acces Memory) dalam sebuah computer dengan shalat. RAM dalam otak kita itu kadang penuh dengan urusan dunia, apa yang terjadi jika shalat mengandalkan pendekatan otak? Karena otak sudah penuh dengan urusan dunia, maka sering urusan dunia juga masuk dalam shalatnya (Gama Media, Ghufron Ajib, 2000)

Untuk itu, perlu sekirannya menanamkan perilaku shalat karena Allah diulang-ulang secara terus-menerus untuk mengganti long term memory kita atau RAM kita yang sudah penuh dengan urusan duniawi dan juga persepsi shalat yang tidak mengenakkan. Cara ini bisa ditempuh dengan memanggil ruh kita ketika mau shalat. Jiwa yang akan kembali kepadaNYA. Inilah yang perlu kita tarik dalam-dalam ketika takbir, rasakan dia yang ikut shalat, bukanlah badan kita. Wafii anfusikum afala tubsyirrun.

Jika shalat kita masih dalam pendekatan otak semata, maka kenikmatan akan berkurang sesuai dengan naluri dan kelemahan otak yang tidak suka sesuatu yang diulang-ulang atau stabil, yakni itu-itu saja yang dibaca surat al-fatekhah, habis ini ruku’ pasti sujud dan seterusnya. Dengan cara memanggil Allah dalam setiap shalat dan dengan cara melibatkan ruh yang akan kembali kepadaNYA, maka justru akan ditambahi terus kenikmatan shalat kita. Shalat seperti inilah yang dirindukan orang, bertahan lama karena enak, tidak jenuh, asyik dan menggapai bahagia sebagaimana panggilan adzan, gapailah kebahagiaan, hayya alal falah. Bahkan rileks, sebagaimana ketika Rasul mengingatkan Sahabat Bilal, Arikhna bis As shalat, tenang atau refreshingkanlah dirimu dengan shalat.

Adalah bukan suatu kebetulan bahwa konsep Tuhan kita atau Allah swt tidak memakai media, seperti patung, atau gambar Yesus Isa dalam agama yang lain. Dengan cara seperti ini memungkinkan jiwa kita untuk tidak terikat, berhenti dan terpenjara. Jiwa ini jadi merdeka, un limited spaces and times. Jadi, shalat itu ya enak, melebihi apa saja, plus ditambahi terus kenikmatan tersebut sesuai dengan janji Allah swt. Huwal ladzi anzalas sakiinata fi qulubil mukminin, liyadadu iimana ma’a iimanihim. Semoga demikian adanya. Allahumma amiin.

Pesan Ust Abu Sangkan Tadzkiroh plus BBQ di City difasilitasi oleh teman-teman Tarbiyah dan PKS:

1. Memahami ajaran Islam mesti komprensif yakni memiliki kemampuan ilmu alat bantu yang memadai, mulai dari ilmu bahasa ilmu nahwu sharaf, amrithi, jurmiyah, tasrifan, ilmu balaghah sampai ilmu al-Qur’an menyangkut tajwid, tafsir, ilmu nasikh wal mansukh, untuk menyebut beberapa ilmu yang terkait saja. Plus ilmu kaidah2 ushul fiqh dengan tidak mengesampingkan aspek ilmu-ilmu umum lainnya. Kalau belum memadai carilah guru ngaji yang tepat, janganlah “guru TK” (istilah Pak Abu) yakni ngaji al-Qur’an dan tahu terjemahannya saja. Bukan berarti tidak boleh, hanya saja harus sadar keterbatasannya, bahwa ilmunya tidak applicable untuk memecahkan masalah Islam yang lebih makro lagi.
2. Pendirian Shalat Center di Adelaide, yang bisa merangkum seluruh alumni dari berbagai golongan dan tidak perlu ada ketua, karena akan berpotensi untuk saling rebutan, pesan beliau. Mungkin coordinator yang bisa disepakati bersama. Saya pribadi sudah bilang ke Pak Ukar Karyanto, beliau mau menjadi coordinator yang nantinya bisa digiir, gantian sebagai pusat informasi bersama.
3. Semakin ikut mengaji dalam pengajian, seharusnya menjadikan keislaman kita yang meneduhkan, netral dan tumbuh sifat-sifat kearifan. Karena beliau khawatir menjamurnya pengajian yang tidak dibarengi dengan pemahaman yang komprehensif dan sifat yang arif dalam mensikapi perbedaan (khilafiyyah) bisa kontraproduktif hasilnya, beberapa contoh pembahasan yang diangkat adalah fatwa MUI pengharaman rokok dan poligami dalam Islam. Kata Ust. Abu Sangkan prinsip Islam adalah monogamy, kalau ditelisik lewat asbabu nuzul ayat serta setting histories masyarakat Arab saat itu. Untuk rokok, tanya saja ke mbak erna selaku penanya, apa hasilnya. Saya saja ndak berani bertanya, karena pak Ustadnya merokok he..he.. tapi beliau baik dan gentle, menyatakan bahwa rokok tidak baik dan jangan diikuti, namun jangan bawa aspek agama (sebagaimana putusan MUI), karena pelarangan rokok tidak ada tersirat secara langsung dalam al-Qur’an, apalagi cangkokan ayat yang dipakai asbabun nuzulnya adalah pengingatan tentang kekuatan diri. Karena waktu itu, tentara Islam berjumlah sedikit mau melawan ribuan musuh. Jadi pesan janganlah rusak diri kamu konteksnya sangatlah berbeda. Namun demikian saya pribadi berpendapat, regulasi terhadap perokok diperlukan, menyangkut asap rokok bisa merugikan pihak ketiga (passive smoker). Senada dengan ini Ust. Abu Sangkan, menyarankan seperti disini aja. No Smoking! Ndak usah, pakai hukum haram yang juga problematic di internal MUI nya.
4. Perbanyak silaturahmi antar komponen Islam.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Al-Faqir ila rahmati rabbihi

M. Adib Abdushomad, M.Ag

Salah satu wakil ketua Tanfidz NU Australia-New Zealand

Mengabdi di Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Depag RI Jakarta

(Berkelompokklah asal menciptakan kemaslahatan umat dan bersifat inklusif)